Padahal, Tetangga Kita Itu Penting Posisinya

Kita semua tahu bahwa jika di lontarkan pertanyaan ke banyak anak SD tentang apa cita-cita mereka maka jawaban terbanyak adalah mau menjadi presiden!

Sebuah cita-cita mulia karena presiden adalah pemimpin tertinggi di negara Indonesia. Maka pastinya generasi muda ini salah satu yang harus di siapkan adalah “behavior of a man of no error”.

Sebuah manusia sempurna yang tidak pernah buat kesalahan (fatal). Obama adalah salah satu contoh manusia yang sulit di cari error-nya. Sehingga dia selalu menang dalam pemilihan karena lawan politiknya memiliki rekam jejak kesalahan bahkan criminal yang mudah di putar atau di twist menjadi black campagne.

Obama tidak. Di jaman modern dan informasi demikian terbuka. Obama hanya punya satu celah kecil yaitu akta kelahirannya tidak ada aslinya. Hanya itu saja.

Ke depan generasi mendatang siapapun anak itu, haruslah disiapkan segala infrastrukturnya untuk menjadi pemimpin, harus dari kecil sudah dibekali dengan sikap jujur, terbuka, pendengar yang baik, bagus komunikasi pubiknya, santun, memiliki kemampuan “followership” yang baik dan memiliki prestasi gemilang di bidang apapun.

Mau itu sebagai seniman, scientist, arsitek, tukang insinyur, militer- polisi, profesional ataupun pengusaha. Kelak presiden itu jalurnya dari manapun bisa selama attitude nya seorang leader-pemimpin.

Dan o iya, ilmu apa yang paling berat yang harus dimilikinya (generasi muda) selain dari emotional quotient yang tinggi? Yaitu ilmu geopolitik dan geostrategi.

Ingat pemilih presiden di sebuah negara katakan negara kita Indonesia pemilihnya bukan hanya rakyatnya saja, tetapi NEGARA lain yang berkepentingan atas indonesia juga negara tetangga ikut “memilih”.

Benar mereka tidak masuk ke bilik pencoblosan tetapi mereka bisa mempengaruhi pemilih. Apa yang mereka lakukan? Mereka bisa melakukan dengan “media warfare” dan melakukan “perang informasi”.

Propaganda bisa di lakukan melalui apapun karena walaupun hardware cyber defence army kita lengkap (eh ada ngak ya departemen itu hahaha) ngeledek ya saya, maaf saya tahu tidak ada di indonesia pasukan lengkap untuk counter media propaganda.

Hardware mungkin ada, namun para doktor para pakar yang menjalankannya seperti ahli doktor psikologi massa, ahli komunkiasi, ahli antropologi, ahli kebijakan publik, ahli analisis dan strategic inteligen dan banyak lagi duduk menganalisa dan membangun opini, untuk agitasi (mengajak) dengan cara soft approach berulang-ulang kita tidak ada departemennya dan SDM nya.

Kita tahu Rusia kemarin menarget kemenangan Trump dengan serangan berita buruk yaitu menyerang “bocoran email” madam secretary Hillary di “last minute” dengan cyber nya. Dan kita juga tahun 2014 presiden kita di “prefer” oleh negara mana yang mendukung memalui soft approach ini.

Inget khan sehabis di lantik beliau bertandang ke negara mana? Inget khan sudah berapa kali dalam 3 tahun menjabat dia mengunjungi negara “endorser” nya tersebut.

Apa itu salah? ya ngak juga. Itu namanya geopolitik dan geostrategik. Dan kalau kita naif ngak faham hal seperti ini khan kasihan bangsa ini. Di kira yang milih “hanya” rakyatnya seperti di otak banyak para anggota DPR haha. Jauuuuh dah.

Ke depan bagaimana dong? Perang media dan perang informasi bakal membanjiri jagad maya. Iya lah. Demi atas nama propaganda. Kita semua tahu khan propaganda itu adalah “changing mindset” dengan tools nya agitasi dan provokasi.

Agitasi adalah mengajak, provokasi adalah mengajak dan bergerak. Semuanya bertujuan satu, changing mindset. Dan melakukannya harus dengan study panjang, berbagai aspek dilihat. Aspek sosial, aspek psikologis, aspek politis, aspek ekonomi, aspek budaya, dan banyak lagi di kemas dalam sebuah issue dan di viral perlahan.

Bagi pebisnis sepertinya hal ini adalah hal yang biasa di dalam kita membangun “brand”. Brand is an issue. Propaganda juga basisnya membangun “issue”.

Sehubungan dengan geopolitik dan geostrategik ini saya yang sedikit banyak 15 tahun terakhir berada dalam dunia sempit ini bermaksud membuat buku sebagai bekalan anak muda kedepan yang tertarik menjadi pemimpin bangsa.

Sudah jadi 70% lalu ada hal yang membuat saya shock karena tidak menyangka hal ini terjadi.
Saya memang menunggu satu negara besar rapat dan melakukan kebijakan nasional. Ya benar, negara itu bernama China Tiong kok.

Partai komunis china mengadakan kongres ke 19 PKC pada tanggal 18-24 oktober 2017 kemarin. Tentunya “kami” memasang orang di sana yang langsung ikut dalam meliput dalam rapat terbuka.

Sewaktu “beliau” memaparkan hasil kunjungannya di sana, ini yang membuat saya shock. Saya geleng-geleng kepala. Saya asli harus merombak total isi buku yang saya tulis. Gila saya pikir hal ini. Saya miris kalau pemerintah tidak tahu dan tidak dapat “insight” ini. salah semua bisa-bisa kita ke depannya, karena terlalu naif.

Semua saya tumpahkan di buku yang awalnya ber judul “NAH KHAN?!! Saya bilang juga apa..” yang kemudian saya teringat sebuah “beast” binatang yang bernama HIU, shark.

Shark adalah pengejar darah , mahluk yang sangat tinggi intelegensianya, buas namun bekerja berkelompok bisa, bekerja sendirian bisa. Multilateral bisa, bilateral bisa. Shark itu “self sufficinet animal” bisa menyediakan semua kebutuhannya , sendiri.

Pertanyaan kita adalah “how to swim with the shark without being eaten alive”, jangan sampai kita berenang dengan hiu dan dimakan hidup-hidup. Karena itu setelah saya pelajari dengan seksama dua negara di tambah negara ketiga yaitu china maka tag line buku tersebut adalah, “Bagaimana berenang dengan USA, CHINA & INDIA di mana INDONESIA tidak di makan hidup-hidup dengan memperkuat ASEAN”.

Inilah buku geopolitik dan geostrategik yang di buat bahasa anak muda agar mengerti peta dunia yang mempengaruhi langsung negara indonesia. Bagaimana pentingnya peran indonesia di ASEAN yang sekarang luntur dan tidak di anggap lagi sebagai “Big Brother” di kawasan.

Bagaimana menjadi panglima Asean, bagaimana mengendalikan ekonomi Asean, bagaimana mengendalikan kekuatan ke empat populasi dunia, karena Asean ketika di jumlahkan populasinya hampir 700 juta kekuatan pasar dan penduduknya. Dan hingga saat ini bilionaire lahir di Asean tidak termasuk tercepat. Amerika dan china masih penghasil billionaire terbanyak.

Bagaimana menggeser kekuatan “domisasi negara” di bidang ekonomi menjadi kekuatan swasta namun negara memiliki kedaulatan yang meningkat tinggi dengan membangun swasta. Bagaimana kolaborasi swasta –swasta di Asean. Inilah semua harus di sadari oleh generasi jaman NOW ini.

Bahkan tetangga kita Australia yang lagi “getem-getem” ingin lepas dari commonwealth British di dukung oleh konglomerat Gina Renehart saja di pemerintahan Indonesia saat ini kayak orang bingung, emang ada ya gosip begituan, apa lagi anak muda jaman NOW ya ngak faham blassss. Padahal tetangga kita itu penting posisinya.

Ke depan bagaimana? Jangan takut wahai anak muda, kita siapkan ekosistemnya. Jadi good follower dulu ya, baca buku ini. Sabar-sabar jangan mentang-mentang populer lalu langsung nyalonin diri, sabar, cari “bolo” dulu. Cari kawan di Lokal dan internasional, faham dulu, kuat dulu data, kuat analisa,kuat team dan pinter di lapangan ya…jangan kayak yang sekarang ra ngerti blass hahaha.

By; Wowiek Mar Di Gu

Leave a Comment